Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Indonesia dan Belanda

Rabu, 17 Juli 2013

Indonesia vs Belanda (foto: vivanews.co.id)

Oleh Endro Yuwanto
Orang-orang Belanda pertama kali ke Indonesia pada 1552 di bawah pimpinan Cornelius de Houtman yang mendarat di salah satu pelabuhan dan pusat kekuasaan nusantara, Banten. Bertahun-tahun Belanda membangun koloni di nusantara yang berakhir pada 1942 ketika Hindia Belanda diserbu dan diduduki bala tentara Jepang.

Meski Indonesia memiliki keterkaitan sejarah dengan Belanda, pertemuan kedua negara di lapangan hijau menjadi kali pertama dalam sejarah dua bangsa. Tak pelak, pertemuan ini menjadi sejarah baru persepakbolaan Indonesia maupun Belanda seperti saat De Houtman menjejakkan kaki kali pertama di Indonesia.

Tak hanya publik sepak bola Indonesia yang antusias menghadapi laga persahabatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta itu, publik di negeri 'kincir angin' itu pun sama penasarannya. Bahkan, pertandingan itu disiarkan langsung di kedua negara.

Warga Belanda juga tak melupakan keterkaitan sejarah dengan negeri kaya rempah-rempah ini. Setidaknya selama ratusan tahun negeri ini menjadi wilayah koloni negeri di Eropa Barat Laut itu. Para pemain berdarah Indonesia pun kerap menghiasi pasukan De Oranje. Dari mulai era Simon Tahamata hingga era modern saat ini yang diwakili Giovanni van Bronckhorst, Nigel de Jong, hingga Jhonny Heitinga, dan beberapa nama lainnya.

Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan pasukan De Oranje. Seperti halnya hukum timbal-balik, tim nasional Indonesia pun memiliki stok pemain berdarah Belanda, lebih tepatnya naturalisasi dari Belanda yang memang memiliki darah Indonesia. Sergio van Dijk, Diego Michiels, Raphael Maitimo menjadi contoh nama-nama pemain timnas Indonesia yang bernuansa Belanda.

Jauh pada tahun-tahun saat pendudukan Belanda berlangsung di Indonesia atau pada 1938, Indonesia yang kala itu membawa nama Hindia Belanda tampil di Piala Dunia Prancis. Meski belum membawa bendera merah-putih, Indonesia tetap layak berbangga karena menjadi tim pertama yang berpartisipasi di Piala Dunia.Persinggungan sepak bola Indonesia dan Belanda juga sempat terjadi di level klub. PSV Eindhoven, Feyenoord Rotterdam, dan Ajax Amsterdam adalah tiga klub terhebat di Belanda.
Tiga klub itu pun sama-sama pernah bermain di Indonesia.Kiprah klub asal Belanda yang pernah berlaga di Indonesia diawali oleh PSV pada 1971. Ketika itu PSV bermain tiga kali di negeri ini, yakni di Medan melawan PSMS (menang 4-0), di Surabaya menghadapi Persebaya (menang 8-1), dan di Jakarta bertemu timnas (menang 6-0).Empat tahun kemudian Ajax datang ke Jakarta.

Tim Amsterdam itu mengikuti turnamen segitiga bersama Manchester United dan Indonesia Tamtama. Ajax juga sempat bermain melawan PSSI wilayah I di Stadion Teladan, Medan, 7 Juni 1975. PSSI wilayah I adalah juara turnamen antarregional pada 1974 yang didominasi pemain PSMS. Ketika itu, Ajax tumbang 2-4.Setelah bermain di Medan, Ajax kembali ke Stadion Utama Senayan untuk menghadapi Persija. Skor 1-1 tercipta saat itu.  Pertandingan terakhir Ajax ketika itu dilakukan di Stadion 10 November, Surabaya, menghadapi Persebaya. Ajax menang 3-2.

Pada 5 Juni 1978 giliran Feyenoord yang bermain di Senayan melawan timnas. Namun, laga itu tak tuntas. Laga dihentikan pada menit ke-55 saat Feyenoord unggul 3-0 menyusul baku hantam para pemain. Feyenoord, yang diperkuat Johan Cruyff, hadir lagi di Senayan pada 1984 untuk melakoni partai segitiga bersama Mandala dan QPR. 
Pada 1987, PSV Eindhoven, yang diperkuat Eric Gerets, Ruud Gullit, Wim Kieft, dan Ronald Koeman, datang. Kala itu Gerets merupakan kapten timnas Belgia, sementara Gullit baru berstatus pemain termahal dunia setelah dibeli AC Milan. PSV bertemu Persib pada partai yang dimainkan di Stadion Siliwangi pada 11 Juni 1987. PSV unggul 6-0. Ketika itu PSV juga meladeni timnas dalam partai yang berakhir 3-3.
Kesempatan berikutnya PSV datang ke Indonesia adalah pada awal 1996. Kala itu PSV diperkuat oleh Wim Jonk, Luc Nilis, Jan Wouters, Arthur Numan, dan Ronaldo de Lima, yang masih berusia 19 tahun yang kelak menjadi superstar di Barcelona, Real Madrid, dan timnas Brasil. PSV menjalani pertandingan lawan Persma di Stadion Klabat, Manado. PSV menang 6-0. Pertandingan kedua PSV digelar di Stadion 10 November, Surabaya, menghadapi Persebaya dan berakhir dengan skor 6-2.

Tak ayal, pertemuan antara timnas Indonesia dan Belanda layaknya perang saudara, meski di medan perang saling berhadapan satu sama lain. Namun, jangan bicara soal kualitas yang tentu saja sangat berjarak. Belanda adalah tim besar saat ini peringkat sembilan dunia--sementara Indonesia berkutat di posisi ke-170 dunia-- dengan segudang prestasi, meski jarang merebut trofi di turnamen besar.

Tapi belum apa-apa, seperti saat mendarat kali pertama di Banten, pasukan Belanda tetap jemawa. Ini lantaran De Oranje enggan mengenakan kostum tandang mereka dan keukeuh dengan kostum utama khas berwarna oranye. Walhasil, lagi-lagi Indonesia harus mengalah dengan tidak mengenakan kostum kandang kebanggaan (merah) pada laga di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat (7/6). Pelatih timnas Indonesia Jacksen F Tiago sebenarnya sempat ngotot Indonesia harus berkostum merah sebagai kostum kebangaan tim tuan rumah.

Tapi seperti zaman dulu, ternyata pihak promotor sudah memiliki perjanjian dengan manajemen timnas Belanda. Lagi-lagi, Indonesia kalah dalam hal perjanjian dan tentu saja soal uang. Terlepas dari kali pertama timnas Belanda ke Indonesia ataupun sudah makin jarangnya Indonesia mendapat latih tanding tim besar, apa yang dilakukan tim-tim besar Eropa dalam turnya ke beberapa negara yang masih tertinggal sepak bolanya hanyalah sekadar membuang kejenuhan. Tentunya dengan mendapatkan uang saku fantastis plus liburan gratis. Lagi-lagi kekuatan uang berbicara di sini.

(Dimuat di suplemen Republika, REKOR, 8 Juni 2013)


0 komentar:

Poskan Komentar

 
JB © 2011 | Designed by Chica Blogger for Free WordPress Themes and Facebook Frases